MADRASAHDIGITAL.CO- oleh: Enje Fitri Pebriliani Ketua Umum PK IMM FIKES UNISA 2021-2022
Munculnya kasus pertama Covid-19 di Indonesia pada 2 Maret 2020 lalu, cukup menggemparkan dunia kesehatan di Indonesia. Sejak itu pula perkembangan kasusnya terus melonjak dan belum berhenti hingga tahun 2022 ini. Berbagai kebijakan pun dikeluarkan oleh pemerintah demi memutuskan rantai penyebaran Covid-19.
Dinamika pandemi dan lahirnya banyak kebijakan memberi dampak terhadap pola hidup masyarakat sampai hari ini. Penyakit-penyakit lainnya pun terabaikan karena crowded-nya kasus pandemi Covid-19. Padahal masih ada beberapa masalah krisis kesehatan yang terjadi di Indonesia dan tentunya sangat dekat dengan kita bahkan seharusnya menjadi perhatian semua orang.
Krisis kesehatan yang ada dan patut menjadi perhatian adalah penyakit yang masuk dalam jenis Silent Killer, diantaranya adalah hipertensi. World Health Organization (WHO) tahun 2018 menunjukkan sekitar 1,13 Miliar orang di dunia menyandang hipertensi, artinya 1 dari 3 orang di dunia terdiagnosis hipertensi. Jumlah penyandangnya terus meningkat setiap tahunnya dan diperkirakan setiap tahunnya 10,44 juta orang meninggal akibat hipertensi dan komplikasinya.
Penyakit lainnya ada gastritis atau biasa disebut sakit maag, menurut World Health Organization (WHO), insiden gastritis di dunia sekitar 1,8- 2,1 juta dari jumlah penduduk setiap tahunnya. Di Indonesia angka kejadian gastritis cukup tinggi.
Selain dua penyakit yang telah disebutkan masih banyak penyakit lain yang menjadi persoalan kesehatan seperti gula darah, gangguan pada ginjal, stroke, penyakit jantung, gizi buruk, TBC dan lainnya.
Berada pada masa yang luar biasa ini, tidak hanya merasa khawatir dengan penyebaran covid-19 pada realitanya kita juga banyak ditunggu oleh penyakit-penyakit lainnya yang boleh jadi mengharuskan kita menjaga pola hidup sehat yang lebih ekstra dari masa sebelumnya.
Pada era sekarang dimana sangat mudah mengakses segala informasi melalui kecanggihan teknologi yang ada, serta sudah cukup memadai nya fasilitas untuk melakukan kegiatan yang menunjang tercapainya kesehatan yang optimal.
Namun pada realitanya hal ini belum bisa menumbuhkan kesadaran unruk menerapkan pola hidup sehat, padahal kita semua sudah menyadari di masa pandemi ini tentu menerapkan pola hidup sehat itu penting. Lagi-lagi hal itu malah berbanding terbalik dengan apa yang diharapkan, contoh sederhananya masih banyak orang yang acuh untuk konsisten mencuci tangan dan memakai masker saat berkegiatan di luar.
Sehat adalah Prioritas
Kesehatan adalah kebutuhan primer dari manusia, kesehatan memiliki peran yang cukup besar bukan hanya berkaitan dengan penyakit saja tetapi juga berkaitan dengan aspek fisik, psikis, spiritual, sosial dan lingkungan yang secara keseluruhan saling mempengaruhi satu hal dengan yang lainnya.
Lalu untuk menciptakan kondisi yang ideal tentu harus dimulai dari diri sendiri maka dari itu adanya penyakit pada seseorang juga bisa mengindikasikan kondisi tidak sehat.
Untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal, diperlukan pengelolaan yang tepat. Behavioral health atau pola hidup sehat merupakan salah satu kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh manusia untuk bisa mewujudkan kondisi sehat yang dimaksud pada definisi kesehatan.
Rasanya informasi serta edukasi mengenai kesehatan sudah cukup banyak hadir dan bisa didapatkan dimana-mana, tinggal bagaimana kita menyikapinya dengan menjadi pribadi yang acuh atau menjadikan kesehatan diri adalah sebuah prioritas yang harus dijaga dan diperhatikan.
Tips agar Tetap Sehat
Sebenarnya ada banyak hal sederhana yang bisa kita lakukan untuk dapat hidup sehat. Hanya saja terkadang kita lupa dan malas untuk konsisten menerapkannya entah itu karna kepadatan aktivitas yang ada atau hanya karna sikap acuh terhadap kesehatan.
Dalam penelitiannya, Ekowarni menjelaskan mengenai pemahaman terkait penyebab penyakit yang dialami terutama dalam kelompok remaja, disadari bahwa pola makan serta kebiasaan buruk seperti merokok menjadi penyebab utama timbulnya penyakit.
Pada penelitian yang lain, sebagaimana ditemukan oleh Fonterra dalam rangka menyambut hari osteoporosis dunia menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara di Asia Tenggara yang paling tidak aktif dengan data perolehan 68 persen respondennya menyatakan mereka berolahraga kurang dari tiga kali seminggu.
Dari data-data yang terdapat diatas tentunya hal-hal kecil dan mungkin hal-hal receh bagi kita yang juga termasuk kedalam behavioral health dalam keseharian perlu adanya perbaikan.
Kecil namun sulit, seperti menjaga pola makan dan asupan nutrisi tetap baik dan sehat, pelan-pelan untuk menghentikan kebiasaan buruk seperti begadang dan merokok, menjaga kebersihan tubuh serta mengusir malas untuk rutin berolahraga merupakan hal kecil dan mutlak yang harus kita terapkan setiap harinya.
Jadi, tentang “Bagaimana saya bisa jadi orang yang sehat?” selain membutuhkan informasi mengenai kesehatan itu sendiri, perlu konsistensi untuk membiasakan diri melakukan kegiatan-kegiatan yang menunjang tercapainya hidup sehat mulai dari diri sendiri.
Memperoleh perubahan yang besar, haruslah dimulai dengan memperbaiki diri secara individu, dengan kesadaran individu ini akan menciptakan kesadaran kolektif yang lebih luas.
Catatan Penutup
Sebagai penutup, beberapa hal yang perlu untuk saya tegaskan; Pertama, perlu kita ketahui bersama bahwa covid-19 bukanlah satu-satunya ancaman yang sedang kita hadapi pada masa sekarang tetapi juga banyak ancaman kesehatan lainnya yang bahkan sangat dekat dengan kita.
Kedua, behavioral health atau pola hidup sehat menjadi salah satu bentuk pencegahan dan mempertahankan derajat kesehatan yang optimal.
Ketiga, untuk mewujudkan behavioral health yang ideal dibutuhkan pengetahuan dan konsistensi dalam membiasakan diri melakukan kegiatan-kegiatan yang menunjang tercapainya derajat kesehatan yang diinginkan.
Red. Saipul Haq










