Madrasah Digital
Ketentuan Kirim Tulisan
Buat Akun
  • Berita
    • Rilis
    • Komunitas
    • Surat Pembaca
  • Gaya Hidup
    • Tips
    • Hobi
  • Wawasan
    • Analisis
    • Wacana
    • Tadarus Tokoh
    • Resensi
    • Bahasa
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Esai Sastra
  • Ruang Madrasah
    • Materi Pelajaran
    • Online Learning
    • Ruang Konsultasi
Kamis, Januari 22, 2026
No Result
View All Result
  • Berita
    • Rilis
    • Komunitas
    • Surat Pembaca
  • Gaya Hidup
    • Tips
    • Hobi
  • Wawasan
    • Analisis
    • Wacana
    • Tadarus Tokoh
    • Resensi
    • Bahasa
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Esai Sastra
  • Ruang Madrasah
    • Materi Pelajaran
    • Online Learning
    • Ruang Konsultasi
No Result
View All Result
Madrasah Digital
No Result
View All Result

Cerpen : Suatu Malam di Bulan Maulid

Suatu Malam di Bulan Maulid

admin by admin
Oktober 7, 2022
in Cerpen, Sastra
6 min read
0
456
SHARES
712
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

MADRASAHDIGITAL.CO,- Oleh Ibnu Mustasira

 

Sore itu, aku baru selesai mengengkol motor ketika pemuda yang biasanya mengawaniku—Kadir—tiba-tiba menelepon dan bilang tak bisa ikut. Ada urusan mendadak, ujarnya di ujung telepon. Aku tak tahu urusan mendadak macam apa yang ia maksud, tapi aku maklum, meski agak kesal karena ia tak memberi tahu lebih awal.

 

Tempat ceramahku malam itu kurang lebih tujuh puluh kilometer dari kampung. Terletak di satu daerah yang terbilang lumayan pelosok, dan satu-satunya akses ke sana adalah sebuah jalan yang penuh kelok. Aku pernah mengisi ceramah di tempat yang lebih jauh sebelumnya, jadi soal itu seharusnya tak masalah.

 

Namun, dengan ketiadaan Kadir, ceritanya jadi lain.

 

Jika Nabi Musa mengajak kakaknya, Harun, pergi berdakwah karena kefasihan sang kakak berbicara, maka aku mengajak Kadir karena kelihaiannya membawa motor. Ah, bila pemuda itu yang membawa motor, aku selalu tenang membonceng di belakang, terutama saat perjalanan malam hari.

 

Aku sendiri bukan tak bisa membawa motor. Aku bisa. Hanya saja, sejak penglihatanku menurun, aku tak lagi nyaman melakukannya. Aku hanya melakukannya di siang hari saat berangkat mengajar. Sedangkan di malam hari, terlebih jika harus menempuh rute yang belum kukenal, aku lebih memilih dibonceng.

 

Karena itulah, selepas Kadir menelepon, aku sempat berpikir untuk membatalkan saja jadwal malam itu. Aku tinggal menghubungi Pak Imam dan menceritakan semuanya. Namun, sebelum hal itu kulakukan, mendadak aku terbayang wajah-wajah cemas yang menunggu dan mengharapkan kedatanganku, dan itu membuatku tak sampai hati. Lagi pula, setelah kupikir-pikir lagi, tak lazim juga seorang penceramah membatalkan jadwalnya tepat di hari-H, hanya karena ia tak punya kawan untuk datang ke tempat acara. Maka, setelah merapal segala macam doa selamat dan tolak bala, aku pun bertolak.

 

“Hati-hati, Bang,” pesan istriku dari ambang pintu.

 

Sekilas kutatap perempuan yang tengah hamil tujuh bulan itu. Romannya begitu tenang dan senyumnya begitu tulus tanpa beban. Aku ingin ia tetap begitu. Maka, walau suasana hati tengah berkecamuk, kupaksakan membalasnya dengan tersenyum dan mengangguk.

***

Karena masalah penglihatanku, ditambah jalan yang di banyak bagian—sebagaimana galibnya jalan di wilayah-wilayah pelosok—jauh dari kata mulus, aku baru sampai di tempat acara pukul delapan lima puluh. Sangat terlambat dari jadwal yang seharusnya. Seharusnya aku datang sebelum azan Isya berkumandang.

 

Kendati begitu, kedatanganku tetap disambut ramah oleh Pak Imam. Sesuai kesepakatan, ia menungguku di rumahnya. Aku sudah bilang sejak jauh hari bahwa aku butuh tempat mengganti pakaian setiba di sana, dan Pak Imam menawarkan rumahnya.

 

Begitu aku turun dari motor, lelaki yang kutaksir sudah bercucu setidaknya kelas tiga SMA itu langsung menyilakanku masuk ke salah satu kamar di rumahnya. Beberapa menit kemudian, aku yang sebelumnya memakai celana dasar hitam, baju kemeja, dan jaket kulit, keluar dengan peci menyungkupi kepala, leher berkalung sorban, bawahan berkain sarung, dan atasan berbaju koko. Kami lalu berangkat ke masjid.

 

Malam itu, sebagaimana biasa saat mengisi acara, aku hanya berceramah tak lebih dari satu jam. Setelahnya, acara dilanjutkan dengan pengumuman pemenang lomba (ternyata beberapa hari sebelum hari-H, panitia PHBI setempat mengadakan musabaqah untuk anak-anak), lalu pembacaan doa, lalu ditutup dengan ramah-tamah.

 

Pukul sebelas lima puluh, aku pulang ke rumah Pak Imam dan bergegas mengganti pakaian. Sejak kudengar gelegar gemuruh sewaktu berceramah, perasaanku sudah mulai tak tenang. Aku khawatir hujan keburu turun sebelum aku pulang. Kalau itu yang terjadi, aku akan menghadapi masalah besar. Pertama, bila hujan turun, aku tak akan bisa memakai kacamata saat membawa motor; kedua, bila hujan turun—apalagi yang disertai angin ribut, listrik akan padam dan aku akan kehilangan bantuan penerangan. Tanpa kacamata dan bantuan penerangan—meski hanya dari satu-dua rumah di pinggir jalan, aku akan semakin sulit untuk membawa motor dengan kecepatan normal.

 

Di atas semua itu, yang paling kukhawatirkan adalah masalah ketiga, yakni masalah istriku. Sejak usia kandungannya memasuki enam bulan, istriku entah kenapa sangat ketakutan dengan suara petir. Jika ia tengah memegang suatu benda saat petir menyambar, ia akan meremas benda itu kuat-kuat. Pernah suatu kali, petir menyambar saat ia memegang sebuah gelas. Gela situ retak, dan hampir pecah karena terlalu kuat digenggamnya. Karena itulah, aku ingin segera pulang.

 

Namun, ternyata Tuhan berkehendak lain. Belum selesai aku mengganti pakaian, hujan berderai turun dan tak lama kemudian menyusul listrik padam. Perasaan cemasku semakin menjadi-jadi, gelisah tak keruan.

 

Dengan gemuruh yang menumpuk di dalam dada, aku lalu duduk di sofa ruang tamu rumah Pak Imam. Lilin yang menyala di meja bergerak kesetanan, seolah akan mengabarkan sesuatu yang buruk. Sesaat setelah duduk, kurogoh ponsel di dalam tas. Semoga ia baik-baik saja di sana.

 

Namun, lagi-lagi Tuhan berkehendak lain. Begitu ponsel kunyalakan, tak ada sebatang pun sinyal di kanan-atas layar. Seketika, aku beristigfar. Pak Imam yang datang dan ikut duduk tak lama kemudian, ketika kutanyai, menjelaskan bahwa memang begitulah keadaan di kampungnya saat listrik padam.

***

Pukul dua belas lima puluh, setelah berjam-jam rasanya menunggu, hujan akhirnya reda. Tak berpikir dua kali, aku langsung memutuskan untuk pulang. Celakanya, dua atau tiga menit setelah kutinggalkan rumah Pak Imam, hujan tiba-tiba kembali melebat. Sebentar saja tubuhku sudah kuyup sehingga membuat gigi-gigiku bergemeletuk. Untunglah tasku kedap air sehingga barang-barang di dalamnya terlindungi. Karena kupikir sudah tak ada gunanya berteduh, kuputuskan untuk melanjutkan saja perjalanan.

 

Dari balik kaca helm, di bawah penerangan cahaya lampu motor, kutatap permukaan jalan dengan mata memicing. Keadaan sunyi dan mencekam. Tak ada pengendara lain yang lewat. Satu-dua rumah dan pohon-pohon di kiri-kanan jalan hanya berupa siluet ketika kilat dan petir menyambar. Dalam hati, tak henti-henti kurapal doa selamat dan tolak bala.

 

Aku sudah keluar dari kampung tempatku berceramah ketika dari kaca spion kanan terlihat tiga cahaya di belakangku. Setelah kuperhatikan baik-baik, nyatalah itu cahaya lampu motor. Alhamdulillah, batinku lega, akhirnya ada juga teman seperjalanan.

 

Sudah menjadi kebiasaanku, bila membawa motor di jalanan yang belum begitu kukenal, aku akan meminjam penglihatan pengendara lain dengan cara membuntuti mereka. Itulah kenapa aku senang ketika melihat ada pengendara lain yang akan lewat.

 

Tapi kemudian, aku tersentak oleh satu pikiran yang tiba-tiba, bagaimana kalau mereka bukan teman?

 

Sekonyong-konyong tengkukku merinding. Teringat olehku sebuah berita tragis yang kubaca di sebuah koran lokal pagi hari itu. Diduga Menjadi Korban Penjambretan, Seorang Ibu Meregang Nyawa dengan Tiga Luka Tusuk di Punggung, demikian headline-nya. Sekujur tubuhku bergidik.

 

Kulirik lagi kaca spion. Ketiga motor itu kian dekat denganku. Tanpa bisa kukendalikan, detak jantungku seketika meningkat cepat, membuat dadaku terasa seakan-akan mau meledak. Saat itulah, seperti mendapat sebuah ilham, aku teringat janji Tuhan: Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku*. Bak disuarakan lewat mikrofon ber-echo tinggi, janji yang terdapat dalam sebuah hadis qudsi itu bersipongang dalam kepalaku.

 

Maka, antara takut dan harap, kutarik napas dalam-dalam, lalu kuucapkan dengan penuh keyakinan: Allah Maha Baik, Allah Maha Baik, Allah Maha Baik, sembari memperlambat laju motor dan membuka jalur bagi ketiga motor itu untuk mendahuluiku.

 

Dari kaca spion, kulihat ketiga motor itu mempercepat laju. Awalnya aku lega karena itu berarti mereka mengerti isyaratku. Tapi kemudian, setelah jarak kami berdekatan, kelegaanku menguap, sebab, alih-alih terus melaju, ketiga motor yang ternyata masing-masingnya dinaiki oleh dua orang berhelm full face itu malah membentuk semacam formasi di sekelilingku. Satu di depan, satu di belakang, satu di samping kanan. Mereka mengepungku! Mereka setengah berteriak, tetapi kuabaikan. Dalam benakku hanya satu, aku harus selamat sampai rumah.

 

Seketika tubuhku meremang. Berita tentang si ibu yang malang itu kembali  mengemuka di kepalaku. Hanya saja, kali ini kubayangkan akulah yang berada di posisi si Ibu. Akulah yang menerima tiga tusukan di punggung lalu keesokan harinya ditemukan dalam keadaan tak bernyawa.

 

Tidak! Kugelengkan kepala keras-keras. Adegan brutal itu seketika buyar, berganti raut wajah istriku yang tersenyum tulus saat melepas kepergianku. Maka, tepat setelah pengendara di depanku memberi isyarat menyuruhku berhenti, kupiuh setang motor sekuat-kuatnya dan, melalui satu celah kecil, aku pun melesat sederas-derasnya.

 

Seperti saat Nabi Musa dan pengikutnya diburu Firaun, sungguh aku berharap ada keajaiban terjadi malam itu. Kedua mataku tiba-tiba berubah setajam mata kucing, misalnya, sehingga setiap lubang bisa kuhindari dengan baik dan setiap tikungan bisa kulewati dengan cantik. Atau, motorku yang hanya bebek tua itu secara ajaib berkecepatan seperti motor balap.

 

Kenyataannya, kedua mataku tetaplah buram sehingga berkali-kali—sampai tak bisa kuhitung berapa kali—ban motorku menghantam lubang-lubang jalanan yang tak rata. Dan motor itu tetaplah motor bebek tuaku yang tenaganya sudah terkuras habis sehingga tak bisa lagi diandalkan. Kalau memang ada keajaiban yang terjadi malam itu, barangkali hanya keadaan di mana aku seperti bisa melihat Malaikat Maut berkali-kali melambaikan tangan ke arahku. Dan itu jelas bukan jenis keajaiban yang kuharapkan.

 

Itulah kenapa, selagi ketiga motor itu memburuku macam kawanan singa kelaparan, aku mulai sibuk memikirkan cara lain untuk menyelamatkan diri. Dan, setelah sejenak memutar otak, tebersitlah satu ide. Di sebuah tikungan tajam yang kiri-kanannya semak belukar dan pohon-pohon besar, kuhentikan motorku, lalu kudorong ke balik semak belukar di kiri jalan. Sebenarnya aku berharap menemukan rumah, tapi karena wilayah yang kulewati saat itu bukan permukiman, mau tak mau aku harus menyesuaikan.

 

Tak lama setelah aku hirap di balik semak belukar, ketiga motor itu melesat cepat beriring-iringan. Lalu, tak lama kemudian, barangkali karena sudah tak lagi menemukan jejakku, mereka berbalik lagi, masih beriring-iringan. Kurasakan detak jantungku perlahan-lahan memelan.

***

Aku sampai di rumah pukul dua lewat lima puluh malam itu, dan hujan ternyata tak sampai ke kampungku. Di depan pintu, susah payah kutampilkan sikap normal kepada istriku. Kuceritakan soal hujan deras yang membuatku cemas dan ingin segera pulang, kurahasiakan soal kejar-kejaran.

 

Keesokan harinya—yang bertepatan dengan hari Ahad sehingga aku tak pergi mengajar, tepat pukul delapan, terdengar beberapa motor memasuki pekarangan rumahku, lalu kudengar pula seseorang mengucapkan salam dan mengetuk pintu. Saat itu aku tengah salat Duha sehingga istrikulah yang menyambut.

 

Belum selesai aku salat, terdengar motor-motor itu kembali menyala, lalu satu per satu berlalu meninggalkan rumahku. Didorong oleh rasa penasaran, selesai salat, bergegaslah aku keluar kamar. Di depan pintu kamar hampir saja aku bertabrakan dengan istriku

 

“Siapa tadi?” tanyaku heran.

 

Sembari menyodorkan sebuah ponsel—yang ternyata tak lain adalah ponselku—istriku menjawab: “Cucu Pak Imam bersama kawan-kawannya.”[]

 

Bungo, 2022

 

 

Catatan:

*Sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim.

 

 

Biodata Penulis

Ibnu Mustasira, menulis cerpen dan terkadang puisi. Lebih banyak menulis untuk diri sendiri.

Share182Tweet114SendShare
Previous Post

Festival Pemikiran Buya Syafii Kokohkan Ciri Khas Islam Indonesia

Next Post

Meneropong Nabi Muhammad SAW Sebagai Manusia Biasa

admin

admin

Related Posts

ilustrasi; zaidan hakim (2024)

Terbit di Distrall Academy

by admin
November 9, 2024
0
91

MADRASAHDIGITAL.CO – Oleh: Zaidan Hakim (Mahasiswa KPI UMY) Matahari terbit dari tebing-tebing Utara Distrall Academy. Dinginnya dataran tinggi cukup sejuk, tukang...

ilustrasi; zaidan hakim (2024)

Empat Bunga

by admin
November 6, 2024
0
78

MADRASAHDIGITAL.CO - Oleh: Zaidan Hakim (Mahasiswa KPI UMY) Reviera melihat seorang perempuan bergaun hitam dan abu cerah. Perempuan itu berdiri melihat...

sumber : Weston T. Jones

Buta dan Ketakutan

by admin
November 4, 2024
0
70

MADRASAHDIGITAL.CO Oleh: Zaidan Hakim (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) "Ia bergegas berlari tanpa arah, berharap akan keluar dari hutan. Setidaknya ia berada...

sumber : Weston T. Jones

Niat Pertama

by admin
November 3, 2024
0
73

“Tentu saja mereka yang di atas akan selalu menginginkan apa yang mereka butuhkan. Ciptakan banyak pahlawan dan ciptakan banyak kuburan...

Sumber: Pinterest

Tertimbun Harap

by admin
November 3, 2024
0
143

MADRASAHDIGITAL.CO Oleh: Geri Septian (Pegiat Sanggar Nun/Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) Aku selalu menunggunya. Puluhan tahun. Bahkan sampai sekarang. Di mana...

sumber : Weston T. Jones

Pemberhentian yang Sama

by admin
November 2, 2024
0
141

MADRASAHDIGITAL.CO Oleh: Zaidan HakimLangit biru menyegarkan pagi di Distrall. Cahaya matahari telah terbit dari tebing tinggi kota, sinarnya tiba mulai menemani...

Next Post
Maulid Nabi Muhammad

Meneropong Nabi Muhammad SAW Sebagai Manusia Biasa

dakwah kampus ibadah ritual sosial manusia wadah

Dakwah Kampus: Wadah Ibadah Ritual atau Sosial?

Tantangan Dakwah IMM Menghadapi era Society 5.0

Tantangan Dakwah IMM Menghadapi era Society 5.0

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

Pos-pos Terbaru

  • Mahasiswi UHAMKA Gelar Dakwah Lapangan Pemberdayaan Keluarga Dhuafa di Duren Sawit
  • Dari Bangku Kuliah ke Lapangan: Mahasiswa UHAMKA Wujudkan Kemanusiaan untuk Keluarga Dhuafa
  • Kontrak Hybrid dalam Ekonomi Syariah: Kebutuhan Zaman atau Masalah Baru
  • Perkuat Basis Organisasi: PDM Jakarta Timur Gelar Pertemuan Regional LPCRPM di Pondok Kopi
  • Isra Mi’raj dan Baitul Maqdis: Refleksi Bulan Rajab bagi IMM dan Mahasiswa

Komentar Terbaru

  • Rini Hillary pada ORANG YANG MEMILIKI WAWASAN LUAS SULIT DIMANIPULASI
  • Riesno Gunawan pada ORANG YANG MEMILIKI WAWASAN LUAS SULIT DIMANIPULASI
  • Rini Hillary pada Kehilangan Diri Sendiri
  • code of destiny pada Kehilangan Diri Sendiri
  • Rin Hillary pada Kehilangan Diri Sendiri

Arsip

  • Januari 2026
  • Desember 2025
  • November 2025
  • Oktober 2025
  • September 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Juni 2025
  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025
  • Februari 2025
  • Januari 2025
  • Desember 2024
  • November 2024
  • Oktober 2024
  • September 2024
  • Agustus 2024
  • Juli 2024
  • Juni 2024
  • Mei 2024
  • April 2024
  • Maret 2024
  • Februari 2024
  • Januari 2024
  • Desember 2023
  • November 2023
  • Oktober 2023
  • September 2023
  • Agustus 2023
  • Juli 2023
  • Juni 2023
  • Mei 2023
  • April 2023
  • Maret 2023
  • Februari 2023
  • Januari 2023
  • Desember 2022
  • November 2022
  • Oktober 2022
  • September 2022
  • Agustus 2022
  • Juli 2022
  • Juni 2022
  • Mei 2022
  • April 2022
  • Maret 2022
  • Februari 2022
  • Januari 2022
  • Desember 2021
  • November 2021
  • Oktober 2021
  • September 2021
  • Agustus 2021
  • Juli 2021
  • Juni 2021
  • Mei 2021
  • April 2021
  • Maret 2021
  • Februari 2021
  • Januari 2021
  • Desember 2020
  • November 2020
  • Oktober 2020
  • September 2020
  • Agustus 2020
  • Juli 2020
  • Juni 2020
  • Mei 2020
  • April 2020
  • Maret 2020
  • Februari 2020
  • Januari 2020
  • Desember 2019
  • November 2019
  • Oktober 2019
  • September 2019
  • Agustus 2019
  • Juli 2019
  • Juni 2019
  • Mei 2019
  • April 2019
  • Maret 2019
  • Februari 2019
  • Januari 2019

Kategori

  • Analisis
  • Bahasa
  • Berita
  • Cerpen
  • Esai Sastra
  • Event
  • Gaya Hidup
  • Hobi
  • Kajian Islam
  • Komunitas
  • Materi Pelajaran
  • Opini
  • Pemikiran Tokoh
  • Puisi
  • Resensi
  • Rilis
  • Ruang Konsultasi
  • Ruang Madrasah
  • Sastra
  • Surat Pembaca
  • Tadarus Tokoh
  • Tips
  • Umum
  • Wacana
  • Wawasan

Meta

  • Masuk
  • Feed entri
  • Feed komentar
  • WordPress.org

Kategori

  • Analisis
  • Bahasa
  • Berita
  • Cerpen
  • Esai Sastra
  • Event
  • Gaya Hidup
  • Hobi
  • Kajian Islam
  • Komunitas
  • Materi Pelajaran
  • Opini
  • Pemikiran Tokoh
  • Puisi
  • Resensi
  • Rilis
  • Ruang Konsultasi
  • Ruang Madrasah
  • Sastra
  • Surat Pembaca
  • Tadarus Tokoh
  • Tips
  • Umum
  • Wacana
  • Wawasan

Sekretariat

MD Academy

Alamat
Kantor MD Grup, Meijing Lor, Ambarketawang, Kec. Gamping, Kab. Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55294

Telp
081385772458 (Saipul Haq)/0817123002 (Muhammad Fakhruddin)

E-mail
redaksimadrasah@gmail.com

  • Redaksi

© 2019 Madrasah Digital

No Result
View All Result
  • Masuk / Daftar
    • Tulis Postingan
    • Tulisan Saya
  • Berita
  • Wacana
  • Gaya Hidup
  • Komunitas
  • Opini
  • Sastra
  • Umum

© 2019 Madrasah Digital

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In