Madrasah Digital
Ketentuan Kirim Tulisan
Buat Akun
  • Berita
    • Rilis
    • Komunitas
    • Surat Pembaca
  • Gaya Hidup
    • Tips
    • Hobi
  • Wawasan
    • Analisis
    • Wacana
    • Tadarus Tokoh
    • Resensi
    • Bahasa
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Esai Sastra
  • Ruang Madrasah
    • Materi Pelajaran
    • Online Learning
    • Ruang Konsultasi
Kamis, Januari 22, 2026
No Result
View All Result
  • Berita
    • Rilis
    • Komunitas
    • Surat Pembaca
  • Gaya Hidup
    • Tips
    • Hobi
  • Wawasan
    • Analisis
    • Wacana
    • Tadarus Tokoh
    • Resensi
    • Bahasa
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Esai Sastra
  • Ruang Madrasah
    • Materi Pelajaran
    • Online Learning
    • Ruang Konsultasi
No Result
View All Result
Madrasah Digital
No Result
View All Result

Cerpen: Lelaki di Taman yang Penuh Bunga-Bunga

Cerpen karya Syauqi Khaikal Zulkarnain

admin by admin
Maret 27, 2021
in Cerpen, Sastra
4 min read
0
Khaikal Syauqi

Khaikal Syauqi

323
SHARES
505
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

MADRASAHDIGITAL.CO, Oleh: Syauqi Khaikal Zulkarnain*

Seorang lelaki kesepian duduk di taman yang penuh bunga-bunga. Masa itu belum lagi ada bangku-bangku, apalagi lelampuan. Cuma bunga-bunga segar rekah berwana cerah. Sekali waktu, lelaki kesepian mencerabut beberapa rumpun mawar, menggenggam kemudian membaui kelopaknya.

Saban hari, ia duduk sendiri. Di taman. Pagi ia terjaga kemudian bergegas ke sungai jernih hendak membasuh diri. Sungai-sungai panjang tak berujung. Barangkali punya, tapi ia belum lagi tahu ke mana sungai jernih itu bermuara. Di dasar sungai, ia melihat bermacam ikan berkejaran. Tak jarang pula, lelaki itu melihat banyak sekali binatang berbaris di tepiannya.

“Binatang-binatang itu sudah kenyang dan sekarang mereka perlu air untuk membasahi perut.”

Ia menyelesaikan urusannya di sungai. Kemudian bergegas pulang. Pada jalanan yang bersih lelaki berhenti demi melihat bebatang pohon rimbun buah-buahan. Reranting pohon itu begitu rendah, buahnya bahkan hendak menyentuh tanah. Digapainya buah paling ranum. Ia habiskan sebuah, kemudian menggapai buah yang lain. Sampai benar-benar kenyang.

Siang begitu cerah. Lelaki yang sendiri kesepian di sebuah taman. Tidak berteman, belum lagi punya pasangan. Ia terlihat lagi duduk sorang diri memandang entah apa di taman yang penuh bunga-bunga. Sekali waktu ia mau sekali memaki Tuhan atas kesendiriannya. Tapi nampak jelas rasa takut ada pada dirinya.

Burung-burung beterbangan di udara. Jantan dan betina. Sekali waktu hinggap dan bernyanyi bersama. Burung-burung heran memandang lelaki duduk sendiri di taman yang begitu indah. Tidakkah lelaki itu hendak menikmati mawar, melati, atau kamboja dengan kekasihnya? Burung-burung bernyanyi lagi. Cericit anak-anak burung menambah ramai suasana. Tapi lelaki itu tetap juga kesepian.

Dari arah sungai mulai nampak derap kaki-kaki hewan berlaluan. Kucing, gajah, kuda, keledai, unta, juga banyak binatang yang belum lagi ia tahu namanya. Berpasang jantan dengan betina. Hewan-hewan itu nampak bahagia, perutnya kenyang-basah. Barangkali, sebentar nanti hewan-hewan kenyang itu akan segera beristirahat dan kawin.

Demi melihat hewan-hewan bermesraan, lelaki itu benar sangat kesepian. Mukanya merah, dadanya yang penuh bisa meledak kapan saja. Bola matanya yang jernih jadi basah seperti sungai tempat ia biasa mandi tiap pagi. Ia menangis, sampai siang jadi redup. Sampai langit menghitam dan udara menjadi dingin.

Lelaki itu jatuh tertidur di taman yang penuh bunga-bunga. Bukan kerna letih bekerja, tapi kerna tidak ada teman yang bisa diajak berbicara. Tidak mungkin juga ia mengajak kembang sepatu berbicara. Burung-burung pun cuma bisa bernyanyi, dan hewan-hewan besar itu cuma pandai melenguh.

Pada tidurnya yang sendiri di taman. Tubuh lelaki itu diselimuti angin malam. Sekali waktu ia mengigau menyebut nama Tuhan. Lelaki itu, meski juga kesepian, ia punya sesembahan. Setiap hari ia berdoa kepada Sang Mahamurah.

Tuhan tahu. Tapi menunggu. Begitu saban hari lelaki berbicara dengan dirinya sendiri. Ia paham betul suatu waktu, Tuhan pasti mendengar. Hatinya yang bersih suci tetap juga sabar. Dan malam itu, memang benar Tuhan mendengar.

Lelaki itu masih lelap. Ketika dari dadanya yang halus, seorang gadis dilahirkan. Gadis itu cantik tidak berperi, ia merangkak dari dadanya kemudian rebah tertidur di samping tubuh lelakinya. Malam yang dingin, di taman yang penuh angin. Adalah malam terakhir bagi sebuah kesepian. Esok hari, lelaki itu akan menikmati mawar-melati dengan sorang kekasih. Kekasihnya sendiri. Dan burung-burung tidak perlu lagi bernyanyi menghibur kesepian si lelaki.

***

Taman yang dingin semalam mendadak jadi hangat ketika pagi. Bunga-bunga sudah mekar sempurna setelah semalam tertidur pula. Semak belukar merapikan diri, rumput menari seiring angin berlalu pergi. Lelaki itu mengerjap, terduduk kemudian menampar pipinya sendiri. Bukan, itu bukan mimpi. Tepat di samping tubuhnya, seorang perempuan tanpa busana. Tertidur memejam mata.

Perempuan itu cantik. Lebih cantik dari bunga yang paling cantik di taman tempat ia seringkali merayakan kesepian. Kulitnya putih wangi seperti melati. Dua lembar bibirnya semerah mahkota mawar. Dadanya yang busung-ranum lebih besar dari buah jeruk. Rambutnya sehalus sutera, bergelombang dan jatuh menjuntai pada bahu indahnya. Lehernya membangkitkan berahi. Lelaki itu menahan kemaluannya agar tidak berdiri.

Tuntas lelaki itu menyapukan matanya pada tubuh gadis yang masih jatuh tertidur. Ia ulangi lagi, ia pandangi tubuh perempuan dengan matanya yang nyalang. Betis perempuan itu jernih-panjang serupa batang-batang kembang. Kemaluannya merekah berwarna delima, padanya tumbuh bulu-bulu halus. Tapi ia belum lagi melihat mata perempuan itu. Sejernih sungai, atau sebening cahaya tembaga. Ia bertanya pada kepalanya sendiri, kemudian menduga-duga.

Cericit anak-anak burung kelaparan sudah mulai lagi terdengar. Lelaki duduk diam menunggu. Perempuan di sampingnya menggeliat, terganggu nyanyi burung yang memang betul berisik. Pelan membuka mata. Lelaki itu menunggu malam berlalu di kelopak mata perempuan, sampai pagi benar terbit dari sepasang matanya yang cerah matahari.

Lelaki di taman yang penuh bunga-bunga tergagap tak tahu hendak bicara apa. Diam-hening lelaki tak dapat berkata-kata. 

“Tidakkah kau hendak mengajakku bicara?”

Ia masih bisu. Dan menyesal. Sebab justru perempuan itu yang lebih dulu berkata-kata dengan suara yang benar-benar merdu. Suaranya lebih enak didengar daripada ceracau murai. Tidak bisa dipungkiri, lelaki itu gugup-gagal menguasai diri.

“Tidakkah kau hendak mengantarku mandi?”

Lelaki itu lekas berdiri. Perempuan menyusul kemudian. Beriringan mereka berjalan menuju sungai. Meninggalkan taman melewati kebun bebuahan. Di sungai, sepasang manusia, lelaki dan perempuan, membiarkan air membersihkan tubuhnya. Lelaki itu masih juga tak berani mengucapkan barang sepatah kata. Si perempuan yang memang cerewet terpaksa kembali mengajaknya bicara.

“Namaku Hawa. Benarkah kau Adam?”

Lelaki itu buru-buru menjawab. Dia tidak akan membiarkan perempuannya kembali tak mendapat jawaban. “Iya, Adam namaku. Bagaimana bisa kau tahu?”

“Tuhan sudah bercerita banyak tentangmu. Kau, lelaki kesepian di taman penuh bunga-bunga itu. Tuhanmu yang baik itu sengaja mengirimku biar tidak lagi kesepian meraja di tubuhmu.”

Lelaki itu, Adam yang kesepian. Diam. Barangkali di dadanya penuh sekali doa kepada Tuhan, sesembahannya yang Mahamurah. Tuhan tahu. Tapi menunggu.

“Benar kau kesepian? Tidakkah kau segera mencium ranum bibirku, memainkan payudara perawanku, atau merengkuhkan tubuhku ke tubuhmu yang kesepian itu?”

Sungai mengalir tenang. Burung-burung terbang jauh. Hewan-hewan yang membasahi perutnya dengan air sungai segar segera berlalu. Sepasang manusia baru, lelaki perempuan, Adam dan Hawa. Di tepi sungai berpeluk-cium. Sampai jauh, jatuh bersenggama mereka dua.

Yogyakarta, 2020

Biografi penulis:

Syauqi Khaikal Zulkarnain, lahir di Kangean pada 18 Agustus 1999. Berkuliah di jurusan Sastra Indonesia UAD. Aktif di Komunitas Teater 42, Komunitas Sastra Luar Ruang, Komunitas Sastra Hahahihi. Saat ini tengah mendapat amanah sebagai Ketua Umum PK IMM FSBK UAD.

 

Tags: cerpen
Share129Tweet81SendShare
Previous Post

12 Tokoh Ini Bakal Menerima Award dalam Resepsi Milad IMM

Next Post

Alumni IKIP MJ/Uhamka Berikan Beasiswa kepada 9 Mahasiswa

admin

admin

Related Posts

ilustrasi; zaidan hakim (2024)

Terbit di Distrall Academy

by admin
November 9, 2024
0
91

MADRASAHDIGITAL.CO – Oleh: Zaidan Hakim (Mahasiswa KPI UMY) Matahari terbit dari tebing-tebing Utara Distrall Academy. Dinginnya dataran tinggi cukup sejuk, tukang...

ilustrasi; zaidan hakim (2024)

Empat Bunga

by admin
November 6, 2024
0
78

MADRASAHDIGITAL.CO - Oleh: Zaidan Hakim (Mahasiswa KPI UMY) Reviera melihat seorang perempuan bergaun hitam dan abu cerah. Perempuan itu berdiri melihat...

sumber : Weston T. Jones

Buta dan Ketakutan

by admin
November 4, 2024
0
70

MADRASAHDIGITAL.CO Oleh: Zaidan Hakim (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) "Ia bergegas berlari tanpa arah, berharap akan keluar dari hutan. Setidaknya ia berada...

sumber : Weston T. Jones

Niat Pertama

by admin
November 3, 2024
0
73

“Tentu saja mereka yang di atas akan selalu menginginkan apa yang mereka butuhkan. Ciptakan banyak pahlawan dan ciptakan banyak kuburan...

Sumber: Pinterest

Tertimbun Harap

by admin
November 3, 2024
0
143

MADRASAHDIGITAL.CO Oleh: Geri Septian (Pegiat Sanggar Nun/Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) Aku selalu menunggunya. Puluhan tahun. Bahkan sampai sekarang. Di mana...

sumber : Weston T. Jones

Pemberhentian yang Sama

by admin
November 2, 2024
0
141

MADRASAHDIGITAL.CO Oleh: Zaidan HakimLangit biru menyegarkan pagi di Distrall. Cahaya matahari telah terbit dari tebing tinggi kota, sinarnya tiba mulai menemani...

Next Post

Alumni IKIP MJ/Uhamka Berikan Beasiswa kepada 9 Mahasiswa

Meneropong Pertanian di Indonesia

Seni Berniaga

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

Pos-pos Terbaru

  • Mahasiswi UHAMKA Gelar Dakwah Lapangan Pemberdayaan Keluarga Dhuafa di Duren Sawit
  • Dari Bangku Kuliah ke Lapangan: Mahasiswa UHAMKA Wujudkan Kemanusiaan untuk Keluarga Dhuafa
  • Kontrak Hybrid dalam Ekonomi Syariah: Kebutuhan Zaman atau Masalah Baru
  • Perkuat Basis Organisasi: PDM Jakarta Timur Gelar Pertemuan Regional LPCRPM di Pondok Kopi
  • Isra Mi’raj dan Baitul Maqdis: Refleksi Bulan Rajab bagi IMM dan Mahasiswa

Komentar Terbaru

  • Rini Hillary pada ORANG YANG MEMILIKI WAWASAN LUAS SULIT DIMANIPULASI
  • Riesno Gunawan pada ORANG YANG MEMILIKI WAWASAN LUAS SULIT DIMANIPULASI
  • Rini Hillary pada Kehilangan Diri Sendiri
  • code of destiny pada Kehilangan Diri Sendiri
  • Rin Hillary pada Kehilangan Diri Sendiri

Arsip

  • Januari 2026
  • Desember 2025
  • November 2025
  • Oktober 2025
  • September 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Juni 2025
  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025
  • Februari 2025
  • Januari 2025
  • Desember 2024
  • November 2024
  • Oktober 2024
  • September 2024
  • Agustus 2024
  • Juli 2024
  • Juni 2024
  • Mei 2024
  • April 2024
  • Maret 2024
  • Februari 2024
  • Januari 2024
  • Desember 2023
  • November 2023
  • Oktober 2023
  • September 2023
  • Agustus 2023
  • Juli 2023
  • Juni 2023
  • Mei 2023
  • April 2023
  • Maret 2023
  • Februari 2023
  • Januari 2023
  • Desember 2022
  • November 2022
  • Oktober 2022
  • September 2022
  • Agustus 2022
  • Juli 2022
  • Juni 2022
  • Mei 2022
  • April 2022
  • Maret 2022
  • Februari 2022
  • Januari 2022
  • Desember 2021
  • November 2021
  • Oktober 2021
  • September 2021
  • Agustus 2021
  • Juli 2021
  • Juni 2021
  • Mei 2021
  • April 2021
  • Maret 2021
  • Februari 2021
  • Januari 2021
  • Desember 2020
  • November 2020
  • Oktober 2020
  • September 2020
  • Agustus 2020
  • Juli 2020
  • Juni 2020
  • Mei 2020
  • April 2020
  • Maret 2020
  • Februari 2020
  • Januari 2020
  • Desember 2019
  • November 2019
  • Oktober 2019
  • September 2019
  • Agustus 2019
  • Juli 2019
  • Juni 2019
  • Mei 2019
  • April 2019
  • Maret 2019
  • Februari 2019
  • Januari 2019

Kategori

  • Analisis
  • Bahasa
  • Berita
  • Cerpen
  • Esai Sastra
  • Event
  • Gaya Hidup
  • Hobi
  • Kajian Islam
  • Komunitas
  • Materi Pelajaran
  • Opini
  • Pemikiran Tokoh
  • Puisi
  • Resensi
  • Rilis
  • Ruang Konsultasi
  • Ruang Madrasah
  • Sastra
  • Surat Pembaca
  • Tadarus Tokoh
  • Tips
  • Umum
  • Wacana
  • Wawasan

Meta

  • Masuk
  • Feed entri
  • Feed komentar
  • WordPress.org

Kategori

  • Analisis
  • Bahasa
  • Berita
  • Cerpen
  • Esai Sastra
  • Event
  • Gaya Hidup
  • Hobi
  • Kajian Islam
  • Komunitas
  • Materi Pelajaran
  • Opini
  • Pemikiran Tokoh
  • Puisi
  • Resensi
  • Rilis
  • Ruang Konsultasi
  • Ruang Madrasah
  • Sastra
  • Surat Pembaca
  • Tadarus Tokoh
  • Tips
  • Umum
  • Wacana
  • Wawasan

Sekretariat

MD Academy

Alamat
Kantor MD Grup, Meijing Lor, Ambarketawang, Kec. Gamping, Kab. Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55294

Telp
081385772458 (Saipul Haq)/0817123002 (Muhammad Fakhruddin)

E-mail
redaksimadrasah@gmail.com

  • Redaksi

© 2019 Madrasah Digital

No Result
View All Result
  • Masuk / Daftar
    • Tulis Postingan
    • Tulisan Saya
  • Berita
  • Wacana
  • Gaya Hidup
  • Komunitas
  • Opini
  • Sastra
  • Umum

© 2019 Madrasah Digital

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In