MADRASAHDIGITAL.CO – Oleh: Lintang Dyah Ramandhani, Jurnalis Madrasah Digital
Seorang pria muda meneguk cangkir kopi ketiganya di sebuah warung kecil tempat ia biasa menunggu. Indra pendengarannya siap siaga bilamana terdengar suara yang menjadi semangatnya. Akan tetapi, matanya terlihat sudah memerlukan istirahat, mengingat dari pagi dia di sana hingga sore hari, Sabtu (22/08), tapi apa yang ia tunggu sampai menghabiskan begitu banyak kopi?
Yusuf, seorang mahasiswa yang mulai memasuki semester 5 jurusan Ilmu Komunikasi di sebuah universitas swasta di daerah Bogor ini, menggeluti profesi sebagai pengemudi ojek online sejak 2018. Ia berprinsip mencari uang tambahan untuk keperluan kuliahnya sendiri. Hal itu ia lakukan sebab ia tidak ingin terus bergantung kepada orang tuanya soal biaya kuliah. Sejak bergabung dengan layanan ojek online, Yusuf mampu membayar biaya semester dan memenuhi keperluannya sendiri tanpa harus meminta orang tuanya.
Setelah menjadi pengemudi ojek online, Yusuf mengaku tidak pernah bolos kuliah. Ia sangat meyakini bahwa pendidikan yang harus diutamakan. “Impianku hanya ingin sukses, tidak merepotkan orang lain, dan mampu mengurus diri sendiri. Aku ingin membuktikan pada orang tuaku bahwa aku mampu,” sahutnya di tengah pembicaraan sambil tersenyum getir.
Bermodalkan motor matik miliknya, Yusuf mencari uang tambahan dengan menjadi seorang pengemudi ojek online. Ia tidak merasa segan melakoni pekerjaan ini, mengingat dia sangat menikmati pekerjaannya. Agar kuliahnya tidak terganggu, Yusuf harus pandai-pandai membagi waktu antara bekerja dan juga kuliah. Walaupun fokusnya terbagi karena ia harus melakukan berbagai aktivitas, ia tetap mengerjakan tugas, presentasi dan praktik lapangan juga.
Karena Yusuf sangat mudah bergaul dengan siapa saja, ia mendapat banyak dukungan, termasuk para dosen dan juga temannya. Kerap kali ia mendapatkan pesanan dari dosen dan juga temannya. Ia juga sering diminta untuk menjadi “pengemudi pribadi” beberapa dosen yang hendak menuju kampus.
Ia sangat suka mendengarkan cerita dari para penumpangnya. Menurutnya, cerita mereka adalah sebuah kritik, saran, dan juga inspirasi untuk dirinya sendiri. “Sebenarnya, aku tidak baik dalam berkata-kata (menasehati), tapi aku hebat dalam mendengarkan. Aku juga belajar banyak dari cerita mereka (penumpang),” ucapnya dengan sedikit tawa. Terkadang sampai larut malam ia masih berkelana bersama motornya. Begitulah Yusuf menggambarkan betapa ia menyukai pekerjaannya.
Akan tetapi, beberapa bulan terakhir ini Yusuf terpaksa berhenti untuk mendengarkan cerita penumpangnya. Hal itu karena pandemi Covid-19 sehingga berdampak pada pendapatannya yang tidak menentu dan juga sepinya pesanan. Sebelumnya, ia mampu membelikan beberapa kebutuhan sekunder dan menabung, tapi sekarang hanya cukup untuk kebutuhan primer. Ditambah lagi, sistem pembelajaran kuliah yang membutuhkan banyak persiapan fasilitas, seperti kuota internet.
“Kemarin, baru saja aku bayar Uang Kuliah Tunggal, dan itu sangat terasa perbedaanya. Tidak semua mahasiswa dapat keringanan pemotongan UKT karena ada ketentuan yang berlaku, dan aku tidak termasuk. Namun, aku lebih tenang sekarang karena semester depan sudah mulai ada program pembagian kuota internet gratis,” keluhnya.
Di tengah ancaman Covid-19 ini, Yusuf tetap bekerja seperti biasa meskipun pendapatannya menurun. Walaupun pesanan menurun, ia tetap sabar menanti suara notifikasi pemberitahuan pesanan. Di samping itu, Yusuf berharap agar pandemi ini cepat berakhir, dan pemotongan UKT disamaratakan.
Editor: Irwansyah dan Lintang Dyah R.










